Lombok Barat, NTB — Di tengah kepulan asap tungku tradisional dan aroma manis nira yang menguar di udara, semangat baru tumbuh di kalangan pengrajin gula aren di Dusun Karang Bayan, Desa Karang Bayan, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Kehadiran Bintara Pembina Desa (Babinsa) Desa Karang Bayan di tengah aktivitas produksi bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan bentuk kepedulian terhadap denyut ekonomi masyarakat lokal, Minggu (19/4/2026).
Babinsa Karang Bayan, Pelda (K) Ni Nyoman Dewi Tri Ary Susanti tampak menyambangi langsung para pengrajin yang sedang mengolah air nira menjadi gula aren. Dengan duduk bersama para pekerja di dekat tungku besar, ia berdialog santai sambil menyaksikan proses perebusan nira hingga mengental menjadi gula merah cair dan gula merah batok. Suasana sederhana itu menggambarkan eratnya hubungan antara aparat kewilayahan dan masyarakat binaannya.
“Dalam beberapa waktu terakhir, permintaan gula aren dari berbagai pelaku usaha terus meningkat. Fenomena menjamurnya cafe kopi di Kota Mataram menjadi salah satu faktor utama yang mendorong tingginya kebutuhan gula aren sebagai pemanis alami. Banyak pelaku usaha minuman kopi kekinian kini lebih memilih gula aren karena cita rasanya yang khas dan dinilai lebih alami dibanding gula rafinasi,” tuturnya.
Pelda (K) Dewi, sapaan khasnya menambahkan, “Perubahan tren tersebut membawa dampak positif bagi masyarakat Dusun Karang Bayan. Sejumlah pengrajin yang sebelumnya memproduksi tuak, minuman tradisional berbahan nira, kini mulai beralih dan berinovasi. Mereka mengolah air nira menjadi gula merah cair serta gula merah batok yang memiliki nilai jual lebih stabil dan diterima luas di pasaran,” ucapnya.
Salah seorang pengrajin, Inaq Sukini (40) mengungkapkan, “inovasi ini memberi harapan baru bagi ekonomi keluarga. Selain meningkatkan pendapatan, peralihan produksi juga dinilai lebih aman dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Dukungan Babinsa dalam bentuk pendampingan dan motivasi menjadi penyemangat bagi para pengrajin untuk terus berkembang,” terangnya.
“kegiatan sambang seperti ini bertujuan untuk memastikan masyarakat tetap produktif sekaligus mampu memanfaatkan peluang pasar yang ada. Ia juga mendorong warga untuk menjaga kualitas produksi agar gula aren dari Karang Bayan memiliki daya saing tinggi di pasar lokal maupun luar daerah,” pungkas Pelda (K) Dewi, Babinsa Karang Bayan.
Melalui sinergi antara aparat kewilayahan dan masyarakat, Dusun Karang Bayan kini perlahan dikenal sebagai salah satu sentra produksi gula aren yang potensial di wilayah Lombok Barat. Di balik panasnya tungku dan tetesan nira yang dimasak berjam-jam, tersimpan harapan besar akan masa depan ekonomi masyarakat yang lebih sejahtera.












