Lombok Utara, NTB – Aliran air untuk lahan pertanian tidak boleh tersendat. Semangat itulah yang terlihat di Bendungan Pekatan, kawasan antara Dusun Dasan Tengak, Desa Sama Guna, Kecamatan Tanjung, dan Dusun Todo, Desa Bentek, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (11/9/2026).
Sekitar ±200 orang turun langsung ke bendungan. Mereka terdiri dari Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), kelompok tani, pekaseh, petugas pengairan, hingga anggota TNI dari Komando Rayon Militer (Koramil) 1606-02/Tanjung. Bersama-sama, mereka membersihkan material yang mengendap di sekitar bendungan.
Dalam kegiatan tersebut, anggota Koramil 1606-02/Tanjung, Serka Sumiadi selaku Bintara Pembina Desa (Babinsa) Tanjung dan Sertu Randi selaku Babinsa Sama Guna, turut berada di tengah masyarakat. Keduanya ikut membantu proses gotong royong sekaligus mendorong keterlibatan warga dalam menjaga fasilitas pengairan yang menjadi sumber penting bagi pertanian.
Para petani dan anggota TNI bekerja bersama di dalam aliran air. Batu dan pasir yang terbawa arus dibersihkan secara manual. Suasana gotong royong terlihat kuat, dengan warga saling membantu memindahkan material yang menghambat aliran bendungan.
Endapan Batu dan Pasir Ganggu Aliran Air
“Gotong royong dilakukan menyusul pendangkalan Bendungan Pekatan akibat tumpukan batu dan pasir yang terbawa curah hujan serta banjir sebelumnya. Kondisi tersebut berpotensi menghambat kelancaran pembagian air menuju kawasan pertanian.” Ujar Babinsa Tanjung, Serka Sumiadi.
Ia juga menambahkan, “Bendungan Pekatan memiliki peran penting karena aliran airnya dimanfaatkan petani di dua kecamatan. Di Kecamatan Tanjung, air diperuntukkan bagi lahan pertanian di Desa Sama Guna, Desa Jenggala, dan Desa Tanjung. Sementara di Kecamatan Gangga, aliran tersebut dimanfaatkan oleh petani di Desa Bentek dan Desa Gondang,” terangnya.
Karena itu, pembersihan bendungan tidak hanya menjadi kepentingan satu kelompok. Kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian bersama untuk memastikan saluran pengairan tetap berfungsi dan kebutuhan air bagi lahan pertanian dapat terjaga.
Petani, P3A dan Pemerintah Turun Bersama
Kegiatan melibatkan Pengamat Air dari PU Kabupaten Lombok Utara beserta staf, Kasi OPJI Pengairan PU KLU, Ketua P3A Sama Guna, Ketua P3A Bentek, para pekaseh dari lima desa, penjaga Bendungan Pekatan, serta ketua dan anggota kelompok tani dari wilayah yang menggunakan aliran bendungan.
“Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya air membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, aparat kewilayahan, pengelola irigasi, dan petani memiliki peran masing-masing dalam menjaga fasilitas yang menjadi penopang aktivitas pertanian masyarakat,” ucap Perwakilan Pekaseh.
Bagi para petani, bendungan bukan sekadar bangunan pengatur air. Di balik alirannya terdapat harapan terhadap keberlangsungan tanaman dan hasil pertanian. Karena itu, ketika aliran mulai terganggu oleh sedimentasi, mereka memilih turun langsung untuk membersihkannya.
Gotong royong di Bendungan Pekatan pun menjadi gambaran sederhana tentang kekuatan kebersamaan di tengah masyarakat. Dengan tenaga yang dikerahkan bersama, material yang sebelumnya menghambat aliran dibersihkan demi menjaga fungsi bendungan bagi petani di dua kecamatan.












